Kamis, 12 Maret 2009

Populasi PRIA dan WANITA

Hendrawan Nadesul (dalam majalah MATRA)

Menurut biro pusat statistic, kini populasi kita lebih banyak wanitanya daripada pria. Dan itu tertinggi pada kelompok usia kawin. Struktur demografis semacam ini dikenal sebagai gambaran masyarakat yang low sex ratio {LSR}. Hal ini sama seperti yang pernah terjadi pada masyarakat Sparta dan yahudi dalam sejarah, dan amerika pada satu dekade setelah perang dunia 2

Berubah-ubahnya rasio populasi pria- wanita selalu terjadi sepanjang sejarah-sejarah bangsa dan Negara. Hal ini dipengaruhi oleh migrasi, perang, pembunuhan bayi, angka kematian, tradisi kawin dan pola seksual. Didukung oleh pesatnya teknolgi, perubahan rasio pria-wanita mulai banyak dipengaruhi oleh dimungkinkannya oleh teknologi seleksi sperma sekarang ini.

Secara biologis, sebetulnya benih pria lebih lemah dibandingkan dengan benih wanita. Dari beberapa studi, tampak bahwa lebih banyak pembuahan lelaki daripada pembuahan perempuan, tapi buah lelaki lebih gampang rusak dan mati sebelum ataupun setelah dilahirkan. Seperdelapan buah lelaki gugur sebelum dilahirkan dan sepertiganya mati pada saat baru lahir.

Dibandingkan dengan wanita, pria ternyata lebih rentan terhadap penyakit jantung dan kanker, baik paru-paru maupun hati. Selain itu, pria tiga kali lebih sering mati karena dibunuh, bunuh diri, atau kecelakaan.

Secara historis pun tingkah laku pria cenderung bercorak kekerasan, sehingga berisiko tinggi untuk dibunuh atau terbunuh. Jenis pekerjaan pria secara gender juga dianggap lebih banyak tantangannya daripada pilihan pekerjaan wanita, sehingga lebih besar ancaman yang dihadapi oleh jiwa pria. Stress gaya hidup amerika, misalnya, merenggut nyawa kelas menengah yang jauh lebih banyak prianya pada lelompok usia yang kian lebih belia.

Selain itu, rata-rata umur harapan hidup pria didunia lebih pendek lima tahun daripada rata-rata wanita. Sebab, wanita rata-rata lebih kebal terhadap penyakit yang umum mengancam kaum pria. Secara biologis, wanita pun lebih “kuat” dibandingkan dengan pria

Kultur gender bahwa lebih sedikit wanita perokok ketimbang pria, hikmah hormon wanita estrogenic yang diwariskan kodratnya telah memberikan keuntungan lebih pada sosok kesehatan wanita dibandingkan dengan lawan jenisnya. Sekurang kurangnya untuk tidak berisiko kena dan mati akibat darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke

Susunan saraf wanita seolah dipersiapkan untuk lebih tangguh menghadapi tekanan dan penindasan. Wanita lebih telaten, lebih sabar, dan lebih tidak rentan terhadap stress

Timpangnya perbandingan populasi pria waniatmodern banyak dipengaruhi oleh makin mengulurnya usia kawin rata rata. Baik pria maupun wanita modern lebih dulu menempuh studi sampai selesai sarjana dan baru memutuskan kawin setelah berpenghasilan cukup layak. Ini berarti usia kawin rata rata menjadi lebih mundur.

Yang terjadi pada 1960-1990, rata rata wanita mencapai usia 33 tahun atau lebih, baru merencanakan kawin. Sehingga, tahun 1980, misalnya, diantara 100 wanita berusia 33-37 tahun yang belum kawin di AS Hanya tersedia 84 pria

Tanpa diduga, kondisi seperti itu ternyata menambah populasi wanita AS yang tidak pernah {berhasil} kawin. Mengapa? Sebab, pria berusia kepala tiga yang sudah merasa layak kawin ternyata tidak memilih sebayanya. Mereka juga tidak memilih wanita yang sudah lama menunggu dan karena itu menunda kawin, tapi mencari istri dari kelompok usia yang lebih muda

Populasi wanita yang tidak menikah di AS meningkat pada waku itu walau kemudian disusul dengan gejala menurunnya lulusan sekolah lanjutan disana karena mereka memilih jurusan yang menyita waktu studi yang lama seperti teknik dan kedokteran. Maka, kaum remaja AS pada waktu itu menolak sekolah tinggi yang membutuhkan waktu lama agar tidak berisiko menjadi 'perawan dewasa' ketika populasinya berada dalam kondisi LSR

Nisbah populasi pria wanita yang manapun menimbulkan perbedaan pandangan masyarakat terhadap masalah cinta, perkawinan, dan seksualitas. Corak perbedaan yang muncul pada kondisi masyarakat LSR lebih banyak tersedia wanita usia kawin dibandingkan dengan prianya akan banyak memunculkan persoalan pada pihak kaum hawa.
Kaum wanita akan lebih berisiko tidak menikah dan menjadi perawan tua, selain lebih berisiko diceraikan tanpa sebab, dilecehkan, dan diperlakukan kurang adil secara gender. Bukan mustahil, secara seksual, wanita cenderung bisa berubah menjadi lebih agresif

Paul L. dressel dan david m. Peterson melakukan studi keagresifan seksual wanita dalam masyarakat LSR sekelompok wanita AS beberapa dasawarsa lalu yang tergolong LSR mulai memprakarsai penyelenggaraan striptease atau tarian erotis yang diperankan lelaki, bukan striptease wanita sebagaimana lazimnya. Penontonnya berusia 18-60 tahun dan terdiri atas sekretaris, pelajar, dan kaum professional. Selesai menonton, mereka diwawancarai.

Hasilnya mereka sangat antusias danbersikap lebih berani ditengah kelompok penonton sekaumnya tanpa satupun penonton pria dari hasil wawancara terhadap 14 pria pemeran striptease, terungkap secara seksual betapa agresifnya penonton wanita memperlakukan mereka diatas panggung ataupun dikamar ganti.

Diperkirakan, persoalan kaum wanita yang bakal muncul dari kondisi seperti itu mengakibatkan akan banyak wanita dalam masyarakat LSR yang hidup melajang. Mereka yang memilih kawin cenderung berisko rela dimadu, akibat poligami yang diprediksi akan meningkat juga.

Angka-angka perundungan seksual, aborsi, janda, dan selingkuh selain perceraian sendiri, kemungkinan ikut meningkat. Secara gender, pola dan karakteristik kehidupan seksual bisa jadi akan berubah dan bergeser. Dampak psikologisnya berpotensi mempengaruhi kehidupan perkawinan.

Merasa berisiko bakal hidup melajang, rata rata wanita termotivasi agar mampu hidup sendiri. Mereka lebih berorientasi pada karier dan profesi. Permintaan bayi tabung diperkirakan akan melonjak. Sebab, mereka ingin punya anak tapi tidak kawin. Gigolo pun bertambah.

Seks dilihat bukan lagi untuk prokreasi, tapi lebih untuk rekreasi. Meningkatnya angka penyakit jiwa terjadi baik akibat hidup sendiri maupun dari dampak psikologis yang dipikul para anak tabung yang hidup dengan orang tua tunggal.

Masalah hukum meningkat karena tuntutan atau perebutan anak akibat teknologi memperoleh anak dari ibu tabung titipan [surrogate mother] mungkin juga, setelah dewasa Anak tabung secara naluri akan mencari ayah biologisnya yang entah dimana, lalu menolak ayah yang membesarkannya. Selain itu, kian bermunculan delik aduan yang diakibatkan oleh budaya kumpul kebo dan wanita simpanan

Akibat semakin banyaknya wanita dalam masyarakat LSR yang pandanagan hidupnya lebih permisif dalam hal seks, diperkirakan, penyakit menular seksual juga meningkat. Penyakit kanker dan gangguan kandungan tak kawin atau akibat hubungan seks bebas dengan lebih dari satu pria akan menjadi kasus yang menonjol termasuk AIDS. Kita tahu, kanker leher rahim bisa berawal dari virus yang ditularkan secara seksual dan sering menyerang wanita yang rajin berganti pasangan seks.

Pergerakan kaum wanita akan menyodok hegemoni kaum pria. Peran wanita dalam segala aspek kehidupan bukan lagi sekadar mitra pengambil keputusan, melainkan menjadi salah satu pemeran pengambil keputusan itu sendiri dengan segala konsekuensinya

Selain itu, paham emansipasi berisiko dipersepsikan melampaui kodrat wanita. Sikap dunia terhadap biological reductionism dalam kancah aktualisasi diri wanita bakal menjadi kurang berarti lagi.

Nilai kepantasan, kepatutan, dan kefeminisan mungkin dikalahkan oleh sikap serba merasa bisa dari kaum hawa. Sehingga makna kesetaraan gender mungkin saja menjadi rancu. Akankah prediksi prediksi social diatas terjadi juga dalam masyarakat kita? Mari kita tunggu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar